Sejarah Wisnu Kencana dan Garuda

Sejarah Wisnu Kencana dan Garuda

Bali memang tidak pernah membosankan untuk dijadikan objek wisata ketika berlibur. Buktinya, pengunjung yang datang tak pernah sedikit dan banyak sekali turis mancanegara yang rela datang jauh-jauh untuk menikmati pemandangan di Bali. Beberapa objek wisata yang awalnya sangat jarang pengunjung seperti La Pancha, tidak membutuhkan waktu lama sudah sangat populer. Tidak ketinggalan pula dengan objek wisata Garuda Wisnu Kencana Bali. Objek wisata ini mampu menyedot banyak pengunjung dengan ikon patung Garuda dan Wisnu-nya. Kedua patung ini disebut memiliki kedekatan hubungan. Tahukah Anda bagaimana sejarah Wisnu Kencana dan Garuda?

Tentu yang datang ataupun belum datang ke objek wisata Garuda Wisnu Kencana ini penasaran dengan sejarah kedua patung ini. Yang konon katanya Garuda menjadi kendaraan Dewa Wisnu. Sejarah Wisnu Kencana dan Garuda ini faktanya, objek wisata ini sudah digagas dan dibangun oleh Yayasan Garuda Wisnu Kencana sejak tahun 1992. Tentu tujuannya tidak main-main, yaitu membuat adanya ikon wisata terbesar di dunia melalui patungnya. Kepala dari Yayasan GWK ini adalah pematung kelas nasional bernama I Nyoman Nuarta. Beliau adalah orang bali asli dan terkenal dengan bagusnya hasil karya pahatan-pahatan modern termasuk patung Dewa Wisnu. Pembangunan dari lokasinya memakan waktu selama dua tahun dan akhirnya memilih lokasi Desa Ungasan yang disebelahnya adalah tambang batu kapur. GWK ini juga sempat beralih kepemilikan oleh properti nasional pada tahun 2013. Klik di sini untuk selengkapnya.

Karena konsep awalnya patung Dewa Wisnu dan Garuda ini menjadi satu, harapan mereka bisa membangunnya suatu saat dan menjadikan patung GWK menjadi patung yang tertinggi di dunia mengalahkan patung Liberty. Tetapi, keinginan ini masih belum terwujud dan masing-masingnya masih memiliki tinggi kisaran 20 meter. Seiring berjalannya waktu, objek ini tidak hanya dijadikan wisata edukasi sejarah Wisnu Kencana Garuda saja, namun juga ditambah dengan acara-acara kebudayaan tradisional seperti musik, tarian-tarian, theater, dan sarana informasi kebudayaan tradisional. Beberapa acara internasional dan nasional juga pernah digelar di wisata Garuda Wisnu Kencana yang memang memiliki lahan sangat luas (240 hektar).

Comments are closed.